Posting By Gallerydunia.com

Ritual Voodoo Ala Masyarakat Haiti

Perempuan itu memutar-mutar lengannya. Matanya melotot. Dia dibantu untuk berjongkok di gudang bobrok itu dan segera berkotek bagai ayam yang ketakutan.

”Tok, tok, petoook! Tok, tok, petoook!” teriaknya, lengan kanannya tertekuk di depannya.

Di sekitarnya, para pemuja voodoo menyaksikan, tidak terkejut, tapi berharap saat upacara mereka mencapai titik klimaks. Seseorang mengikatkan sebuah kain merah ke lengannya, yang berhenti gemetar.

Dalam pandangan mereka, perempuan itu kemasukan arwah orang mati —mungkin seorang dari 220.000 yang diperkirakan telah tewas dalam gempa Haiti bulan Januari—dan karena itu bisa disebut teberkati.

Ketika perempuan itu mengambil sebuah pisau berkarat dan mengayunkannya searah jarum jam memutar ruangan, menenggak minuman keras rasa ceri langsung dari botolnya, orang-orang tidak menjauhkan diri. Mereka malah memeluknya, bahkan menciumnya. Dengan demikian, mereka juga teberkati.

Tetapi, walau upacara di pojok sebuah gang Cite Soleil, kawasan kumuh Port-au-Prince yang hancur oleh gempa bumi itu, dilakukan dengan penuh semangat, para pengikut voodoo merasa terkepung.

Voodoo, sebuah bentuk politeisme Afrika Barat yang sampai ke Haiti bersama perdagangan budak, dipersalahkan oleh sebagian penganut Kristen—evangelis, Adven Hari Ketujuh, Baptis —sebagai penyebab kemarahan Tuhan sehingga menghantam negara mereka.

”Mereka mengatakan bahwa kami adalah yang menyebabkan gempa bumi itu. Tetapi, kami sendiri tahu bahwa kami tidak menyebabkan gempa bumi itu karena itu adalah bencana alam,” kata Willer Jassaint, salah seorang pendeta, atau houngan, yang memimpin upacara Voodoo tersebut.

Keadaan menjadi gawat pada 23 Februari ketika sekelompok Evangelis Protestan menyerang sebuah upacara Voodoo di Cite Soleil dengan lemparan batu.

Max Beauvoir, pemimpin tertinggi Voodoo Haiti, mengatakan kepada AFP dua hari kemudian bahwa apabila kekerasan itu terulang akan menyebabkan ”perang terbuka”, para pengikut Voodoo menghadapi penyerangan dengan penyerangan.

Sejauh ini, aksi kekerasan seperti yang dikhawatirkan itu belum terjadi. Namun, di jalan-jalan dan di gereja-gereja yang penuh sesak di ibu kota Haiti, permusuhan kepada pemuja Voodoo terasa.

Sebagian dari akarnya adalah kenyataan bahwa penganut setia Voodoo adalah strata termiskin penduduk Haiti. Sebagian lagi juga karena masih adanya ketakutan yang ditimbulkan oleh penggunaan Voodoo oleh diktator paling terkenal Haiti, Francois ”Papa Doc” Duvalier dan putranya, Jean-Claude ”Baby Doc” Duvalier, untuk menekan rakyat selama pemerintahan mereka dari 1850-an sampai pertengahan 1980-an.

Kini, Voodoo tetap merupakan sebuah agama resmi negara dan diperkirakan lebih dari setengah penduduk Haiti melakukan sedikitnya unsur-unsur Voodoo, kadang-kadang dengan agama Katolik.

Di tempat berlangsungnya upacara, sementara nyanyian doa dan tarian mereda, para houngan mengumumkan rencana untuk mengadakan lebih banyak upacara publik.

Hal itu demi pembebasan arwah dan untuk mereka sendiri. ”Kami harus mempertahankan agama kami…. Karena agama kami adalah jiwa kami, bagian dari diri kami,” kata Jassaint.(Kompas.com)





" HIDUP KAN GALLERYDUNIA.COM DENGAN BUDAYA KAN BERKOMENTAR"
"Semua Komentar terlebih dahulu melalui moderator dan akan di tampilkan dalam paling lambat 1 x 24 jam dan untuk email pemberitahuan komentar yang di terbitkan atau replay silahkan klik ' Subscribe by email ; ,komentar spam ,caci maki ,berbau,porno; dan lain-lain yang dapat memancing; keributan akan admin hapus..!! terima kasih.
" JIKA ADA GAMBAR ATAU ARTIKEL YANG RUSAK MOHON BATUAN PEMBACA SETIA UNTUK MEMBERITAHUKAN ADMIN DENGAN BERKOMENTAR DI BAWAH INI "





0 komentar:

Posting Komentar